Sendang Sidukun, Potensi Wisata Baru di Desa Traji Parakan TemanggungKabupaten Temanggung di Jawa Tengah terkenal sebagai salah satu penghasil tembakau terbaik di Indonesia. Kecamatan Parakan termasuk kecamatan dengan masyarakat yang mengandalkan tembakau untuk menghidupkan roda perekonomian. Namun, di balik itu semua, desa Traji Kecamatan Parakan menyimpan kekayaan objek wisata yang terpendam. Desa Traji memiliki sebuah sendang yang kerap dikunjungi para wisatawan maupun warga lokal.

Saat malam 1 syura, sendang tersebut ramai didatangi masyarakat karena gelaran budaya yang terus dilestarikan masyarakat setempat. Tradisi yang turun-temurun diwariskan itu terus dilaksanakan bukan semata sebagai ritual. Terdapat tujuan mulia yakni untuk menjaga kelangsungan alam dan lingkungan sekitar. Masyarakat berpegang pada prinsip jika mereka mampu merewat sendang, maka kehidupan akan makmur. Sendang yang berukuran 9x25 meter dengan kedalaman lebih dari dua meter itu dibersihkan dengan cara dikuras airnya. Selanjutnya, pada malam hari, lurah Traji dan istrinya diarak dari rumah mereka menuju SendangSidukun. Prosesi ritual pun dijalankan. Mereka melanjutkan perjalanan ke Balai Desa. Di balai desa pun tak ketinggalan wayang semalam suntuk yang dimainkan selama tujuh malam. Berdasar cerita yang beredar, tradisi tersebut ada sejak dahulu kala. Awalnya, terdapat dalang wayang kulit bernama Garu dari Dusun Garon Desa Traji yang diperintah orang berpakaian bangsawan untuk mementaskan wayang kulit pada malam 1 Suro. Saat wayang dimainkan, orang yang menyuruh sang dalang tiba-tiba lenyap saat membayar dalang. Hilangnya bangsawan tersebut konon saat sang dalang menentang permintaan bangsawan. Dalang lenbih memilih menerima tiga kunir bayarannya dan menoleh di langkah ketiga. Padahal, dalang dianjurkan untuk jangan menengok ke belakang sebelum tujuh langkah. Mendadak bangsawan tersebut lenyap dan tempat tersebut beralih rupa menjadi sendang atau kolam. Kunir tanda pembayaran berganti wujud menjadi tiga batangan emas. Garu sang dalang akhirnya terkejut lalu menyadari jika yang menyuruhnya bukan orang biasa. Sejak saat itu, menanggap wayang di kala satu suro menjadi agenda rutin Desa Traji. Rangkaian Acara Malam 1 SuroSendang Sidukun dikuras terlebih dahulu sebelum gelaran Sendang Sidukun. Gotong royong warga kental terasa saat acara ini. Warga bersama-sama memulas kembali dinding pendapa yang memudar dengan warna hijau tua dan kuning gading. Prasasti yang tertempel di pendapa juga tak lupa dibersihkan. Makna mendalam terkandung dalam tulisan di prasasti yang berbunyi “Angayuhsih Kadarmaning Gusti Kanthi Manunggaling Cipto”. Kepala kambing, bunga wangi, pisang raja, buah-buahan, kopi dalam wadah panci tertutup, wedang santen, dan ketan bakar ditaruh di pendapa sendang sebagai wujud persembahan yang disebut Angsung Bulu Bekti. Yang tak kalah unik adalah keberadaan lubang sumur di bawah pendapa Sendang Sidukun. Masyarakat mempercayai bahwa di tempat itu, Sunan Kalijaga pernah menancapkan tongkat untuk memperoleh air wudhu. Hingga sekarang, masyarakat masih memanfaatkan air sumur sebagai irigasi sendang dan sawah. Banyak anak-anak yang kerap bermain air di sendang. Bukti kegembiraan yang selalu dipertahankan. Kepala Desa Traji beserta istri seolah menikah kembali. Hal itu lantaran ketika mereka memimpin ritual, mereka diharuskan berpakaian layaknya pengantin jawa. Baju kebesaran raja dan ratu tak lupa dikenakan. Para warga pun merayakan dengan cara memakai pakai adat Jawa. Setelah magrib usai, masyarakat dan perangkat desa memulai prosesi. Kirab dari balai desa menuju mata air yang ada di pinggir jalan raya Parakan Ngadirejo. Diusung pula tandu berisi Angsung Bulu Bekti dan gunungan yang disusun dari sayur mayur dan hasil bumi. Masyarakat secara antusias menanti di tepi mata air untuk mengikuti pembacaan doa oleh kades. Sesaji kemudian dilempar ke kolam. Masyarakat langsung berbondong-bondong menceburkan diri ke kolam, saling berebut sesaji. Sesaji di gunungan pun tak ketinggalan menjadi incaran. Ada pula yang menunggu giliran untuk mendapat air sendang yang dibagi juru kunci. Berakhirnya ritual ditandai dengan pulangnya kepala desa dan sang istri ke balai desa. Keduanya duduk di aula dan berkesempatan menerima sungkem dari perangkat desa dan warga. Uang logam pun didapat mereka yang sungkem. Rangkaian acara sendang sidukun tak lengkap tanpa pementasan wayang kulit selama tujuh malam. Manfaat Sendang SidukunAir yang mengalir di Sendang Sidukun berdampak terhadap sungai yang ada di Desa Traji, yakni Bong, Kalijogo, Puring, dan Kalipanas. Masyarakat menggantungkan hidup dari debit air sendang. Banyak yang meyakini jika air sendang berkhasiat untuk obat awet muda, menyuburkan sawah, penglaris, pelancar jodoh, penolak bala, dan banyak hal baik lainnya. Bahkan, warga di luar Traji pun sering sengaja menyempatkan diri untuk membuktikan kisah yang berkembang itu. Selain itu, ritual di Sendang Sidukun juga mampu menarik minat wisatawan. Dengan demikian, banyak warga yang kecipratan untung saat mereka menangkap peluang ekonomi dari ritual. Misalnya, menyediakan lahan parki, jasa sewa senter, penjaja makanan, dan penjual cenderamata. Sendang Sidukun sudah selayaknya digarap secara serius oleh pemerintah. Nama Traji pun akan kian dilirik wisatawan untuk mencari sensasi baru saat berwisata. Jangan sampai, keunggulan budaya Traji ini hanya menguap begitu saja tanpa sentuhan yang matang. Sendang Sidukun menawarkan paket lengkap berupa kemolekan alam dan keluhuran budaya.
Online casino site - Lucky Club
BalasHapusThis site is powered by Betway and provides a safe environment for gamers. If you are in 카지노사이트luckclub search of a place to play, you can find Betway slots here.